Kombinasi Warisan Nusantara dan Inovasi Modern dalam Minuman Botanikal Praktis
Jamu Buk Tin berhasil membawa warisan jamu Nusantara ke panggung modern dengan minuman botanikal praktis. Didirikan pada tahun 2019, Jamu Buk Tin lahir dari inisiatif pendirinya yang ingin melestarikan budaya jamu keluarganya. Usaha jamu ini awalnya didirikan oleh ibu mertua pendiri di Tegaldlimo, namun sempat berhenti pada tahun 2015. Pendiri merasa sayang jika usaha ini tidak dilanjutkan dan berinisiatif mengubah konsep penjualan menjadi lebih modern dan inovatif.
Jamu Buk Tin menawarkan kemasan ready-to-drink (RTD) yang praktis untuk dijadikan suguhan dan mudah dibawa ke mana pun. Dengan ukuran 350ml, produk ini sangat ringan untuk dibawa ke tempat kerja atau saat travelling. Selain itu, mereka juga menyediakan jamu bubuk dalam kemasan pouch yang lebih tahan lama. Proses pembuatan jamu diawali dengan membuat resep dan menguji coba kepada teman atau keluarga hingga mendapatkan rasa yang pas di lidah mereka.
Target utama Jamu Buk Tin adalah generasi milenial dan Gen Z yang bekerja di instansi dan bank. Kelompok ini cenderung lebih terbuka dengan inovasi baru dan sangat aktif di media sosial, sehingga bisa menjadi duta merek yang efektif. Strategi pemasaran yang digunakan meliputi mengunggah video ke media sosial dan memberikan tester kepada teman agar langsung bisa mencoba rasa Jamu Buk Tin.
Jamu Buk Tin juga membuka pemesanan white label atau maklon, memungkinkan reseller menjual produk dengan merek mereka sendiri dan menetapkan harga sendiri. Keuntungan utama dari layanan ini adalah reseller dapat menjual jamu dengan harga yang lebih tinggi sehingga keuntungan mereka lebih besar.
Bahan baku Jamu Buk Tin diperoleh dari petani rempah di sekitar area produksi. Jika bahan baku belum panen, mereka membelinya di pasar terdekat. Produk ini sudah bersertifikat Halal dari pemerintah Banyuwangi, yang melibatkan survei tempat produksi dan bahan baku, memastikan produk aman dan berkualitas.
Strategi pemasaran Jamu Buk Tin meliputi menitipkan produk di toko, warung makan, dan minimarket dengan sistem pembelian tertentu untuk mendapatkan bonus. Mereka juga membuka sistem reseller dengan harga di bawah harga eceran. Untuk mempermudah orang mengetahui informasi tentang produk, mereka mengunggah video dan foto di akun media sosial Instagram, Facebook, dan TikTok.